Website Keluarga

Sebagai Wahana Informasi Dan Komunikasi

 

 

 

  Next Page

  Family News

  Front Page

 

   Home

   History

   Family

   Schema

   News

   Gallery

   Artikel

   Business Com.

   Advertising

   Client

   Sponsor

   Home Base

 

Dalam Website ini kami menyajikan secara detail keberadaan dari masing-masing keluarga s/d saat ini, serta asal usul atau keturunan keluarga besar H. Ardiwisastra

 

Untuk menjaga privatisasi isi Website ini dan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sisilsilah keluarga besar Ardiwisastra, silahkan mengisi buku tamu terlebih dahulu.

 

 

Bagi anda yang belum memiliki password, silahkan hubungi Team Webmaster kami melalui e-mail atau telp.

 

Selamat berkunjung

 

Salam hangat kami,

Team Web Master

R. Drs. Dedy Choerupriyatna, SE.MM.

 

Disini kami menceritakan sekelumit kisah tanah kelahiran yang diketahui mempunyai nilai sejarah,  konon ditempat ini dulunya berdiri suatu kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Suratama atau juga disebut Ciung Wanara, memerintah di Kerajaan Galuh tahun 739-783 Masehi. Adapun tempat tersebut berada tidak seberapa jauh dari kediaman Aki Ardiwisastra yang hanya beberapa ratus meter saja.

Situs Karangkamulyan, Raja dan Bupati Galuh keturunan Prabu Haur Kuning, dan tentang Karesmen Adat Jatukrami di Tatar Galuh Ciamis. Kini tempat tersebut ramai dikunjungi dan menjadi objek wisata.

 

Situs Karang Kamulyan dipercaya masyarakat Ciamis sebagai peninggalan kerajaan Galuh di jaman Ciung Wanara atau Sang Manarah. Menilik nama Galuh sendiri selain nama kerajaan, artinya adalah Permata,  sehingga ada pula istilah ilmu yang disebut ilmu kegaluhan yang berarti permata kehidupan  yang berada di tengah hati.  Dalam bahasa Sunda istilahnya adalah Galuh Galeuhna. Galih.

 

Situs Karangkamulyan sendiri terletak di daerah antara Ciamis dan Banjar. Jaraknya sekitar 17 Km ke arah timur dari ibu kota Kabupaten Ciamis. Luasnya sekitar 25 Ha, tempatnya sejuk dan nyaman dan mudah dicapai. Sehingga menjadi obyek wisata untuk di daerah Ciamis. Di tempat tersebut terdapat peninggalan sejarah berupa batu putih bertingkat berbentuk segi empat yang masuk pada golongan yoni, disebut Pelinggih atau Pengcalikan. Konon batu ini tempat singgasana Raja Galuh yang dijaga tujuh benteng pertahanan. Benteng pertama terletak di Desa Karangkamulyan, sedangkan benteng ke tujuh tepat di pintu tempat batu Pangcalikan berada.  Benteng ini merupakan tempat pemeriksaaan atas orang yang hendak menghadap raja.

 

Di kompleks Karangkamulyan ini juga terdapat tempat yang disebut Sang Hyang Bedil berupa dua buah batu menhir, lalu tempat Panyabungan ayam berupa ruang terbuka yang dianggap sebagai tempat Ciung Wanara menyabungkan ayamnya dengan ayam raja saat itu, dan batu Panyandaan berupa menhir dan dolmen dimana menurut cerita adalah tempat Dewi Naganingrum melahirkan Ciung Wanara.

 

Ada beberapa cerita atau dongeng mengenai Ciung Wanara, diantaranya adalah cerita tentang telur ayam yang dierami ular naga bernama Nagawiru dan sebagainya tentang kesaktian atau hal yang ajaib.

 

Di kompleks Karangkamulyan ini juga terdapat tempat yang disebut Sang Hyang Bedil berupa dua buah batu menhir, lalu tempat Panyabungan ayam berupa ruang terbuka yang dianggap sebagai tempat Ciung Wanara menyabungkan ayamnya dengan ayam raja saat itu, dan batu Panyandaan berupa menhir dan dolmen dimana menurut cerita adalah tempat Dewi Naganingrum melahirkan Ciung Wanara.

 

Sang Manarah atau juga disebut Ciung Wanara, atau Prabu Suratama, atau Prabu Jayaprakasa Mandaleswara Salakabuwana memerintah di Galuh tahun 739-783 Masehi. Ia adalah putera Prabu Adimulya Permanadikusuma yang terbunuh oleh utusan Tamperan, Tamperan adalah Patih yang dititipi kerajaan selama pergi Sang Permana pergi bertapa. Ibu Ciung Wanara adalah Dewi Pohaci Naganingrum cucu Balangantrang, dan Naganingrum menjadi istri kedua Tamperan setelah suaminya meninggal. Tamperan sendiri dari istri kedua Sang Permanadikusuma-Dewi Pangrenyep, memperoleh putera bernama Banga, atau Hariang Banga, atau disebut juga Rakeyan Banga.

 

Masa kecil Ciung Wanara diceritakan dibesarkan oleh kakeknya Balangantrang.  Setelah dewasa, Ciung Wanara dijodohkan dengan cicit Demunawan bernama Dewi Kancana Wangi, dan dikaruniai puteri yang bernama Purbasari yang kelak menikah dengan Sang Manistri atau Lutung Kasarung.

 

Dalam usahanya merebut kerajaan Galuh dari tangan Sang Tamperan, Ciung Wanara dibantu oleh Aki Balangantrang yang mahir dalam urusan peperangan dan kenegaraan bersama pasukan Geger Sunten.  Perebutan kerajaan atau coup d’etat ini diperhitungkan dengan matang yaitu pada saat diselenggarakannya permainan sabung ayam yang sedang menjadi kegemaran di kerajaan tersebut.  Sehingga perebutan kekuasaan ini berlangsung dengan mudah, dan Ciung Wanara memperoleh kemenangan gemilang.

 

Kerajaan sendiri akhirnya dibagi dua menjadi Kerajaan Sunda untuk Hariang Banga, dan Kerajaan Galuh dipimpin oleh Ciung Wanara. Hariang Banga sendiri menikah cucu Resi Demunawan yang lain yaitu dengan adik Kancana Wangi  yang bernama Kancana Sari.

Ciung Wanara diriwayatkan memerintah selama 44 tahun, dengan wilayah dari Banyumas sampai dengan Citarum, selanjutnya setalah Sang Manarah melakukan manurajasuniya - mengakhiri hidup dengan bertapa, maka selanjutnya kerajaan dipimpin oleh Sang Manistri atau Lutung Kasarung, menantunya.

 

Itulah sedikit cerita mengenai tanah kelahiran Karangkamulyan sebagai tanda peninggalan sejarah Kerajaan Galuh. Kami berharap apabila diantara keluarga, kerabat atau handaitaulan yang memiliki atau mengetahui cerita ini, mohon untuk disempurnakan agar cerita ini dapat lebih menarik.      

 

 back to top

 

Team Web Master

E-mail : support@grandexelweb.com

Website : http://www.grandexelweb.com

Mobile : 021-3272 1949